Transport Modeling

Analisa transportasi pada perencanaan wilayah dan kota seringkali menggunakan istilah “pemodelan”, yang pada umumnya berbentuk serangkaian formula matematis untuk menunjukkan aktifitas pergerakan manusia dan barang. Pemodelan ini penting dalam analisa transportasi karena perencanaan transportasi didasarkan pada prediksi-prediksi yang dihasilkan oleh model, meskipun aspek-aspek kualitatif seperti keinginan masyarakat juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Pemodelan transportasi klasik yang seringkali digunakan dalam perencanaan transportasi dikenal dengan pemodelan empat tahap (four-step transport modeling) yang terdiri dari ;

1.Trip Generation; Prediksi frekuensi bangkitan atau tarikan pergerakan berdasarkan land use, demografi, dan factor sosial-ekonomi lainnya

2.Trip Distribution : Membuat pasangan antara sumber dan tujuan pergerakan, seringkali dengan menggunakan Gravity Model.

3.Modal Choice / Split : Menghitung proporsi pergerakan pada tiap pasangan sumber dan tujuan pergerakan, dengan menggunakan sarana transportasi tertentu.

4.Route / Traffic Assignment : Menentukan rute yang ditempuh oleh tiap moda transportasi pada tiap-tiap pasangan sumber dan tujuan pergerakan.

 

Perkembangan terkini pada teknologi komputer secara langsung meningkatkan kapasitas pemodelan transportasi. Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan pemodelan berbasis  komputer, model transportasi akan lebih sesuai jika dikelompokkan menjadi tiga kategori ; Macroscopic, Mesoscopic, dan Microscopic, berdasarkan bagaimana model transportasi tersebut merepresentasikan jaringan jalan dan pergerakan kendaraan, yang diilustrasikan pada gambar berikut;

 

Perbedaan mendetail antara ketiga kelompok pemodelan transportasi tersebut adalah;

Macroscopic :

Jaringan jalan direpresentasikan sebagai Garis (1-dimensi), pergerakan kendaraan dihitung secara rata-rata berdasarkan jangka waktu tertentu (harian, jam, atau menit). Contoh dari pemodelan ini adalah 4-step transport modeling, NETWORK ANALYSIS, dan FLOW ANALYSIS.

 

Mesoscopic :

Jaringan jalan direpresentasikan sebagai Garis (1-dimensi), pergerakan kendaraan dihitung secara berkelompok dengan dimensi waktu yang lebih detail daripada Macroscopic Modeling (menit atau detik). Pemodelan seperti ini relative kurang banyak digunakan, karena pemodelan transportasi pada umumnya secara spesifik ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan secara Microscopic atau Macroscopic.

 

Microscopic :

Jaringan jalan direpresentasikan sebagai Bidang (2-dimensi), pergerakan kendaraan dihitung secara real-time dengan simulasi, dan pada akhir simulasi dapat mengkalkulasikan parameter-parameter yang diperlukan seperti kecepatan rata-rata, volume total kendaraan, dan lain-lain.

 

Penting untuk diperhatikan, bahwa Pemodelan Transportasi hanyalah alat untuk mendukung analisa dalam proses Perencanaan Transportasi, dan tidak dapat dijadikan satu-satunya pertimbangan dalam perencanaan dan pengembangan infrastruktur transportasi.